Leenxx’s Weblog











Pertunangan berasal dari bahasa Melayu yang memiliki kesamaan arti dengan khitbah dalam Bahasa Arab atau dikenal dengan istilah meminang. Pertunangan atau khitbah atau pinangan, yaitu satu ikatan perjanjian yang berlaku diantara pihak lelaki dan pihak perempuan untuk mendirikan rumah tangga. Khitbah dimaksudkan untuk menutup kesempatan bagi pria lain meminang perempuan yang telah dipinang. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal bagi kamu penjualan di atas penjualan orang lain, dan tidak halal bagimu pertunangan di atas pertunangan orang lain”.

Sejarah pertunangan dilitirekan oleh Yunani. Sebelum menikah, masyarakat Yunani biasa melakukan pertunangan. Dalam hal ini, seorang pria meminta wanita yang dicintainya pada ayah sang wanita untuk dinikahi. Ketika kedua belah pihak menyepakati pernikahan itu, dipanggilah pendeta untuk memberkati cincin pertunangan dan menyematkannya di jari manis kiri masing-masing pasangan. Kemudian para tamu menyambut kebahagiaan tersebut dengan mengucapkan “Kala stephand” (mahkota baik, semoga pernikahannya baik). Lucunya, kebiasaan ini tak dilakukan lagi di Athena, tapi justru berkembang di luar Athena.Dalam Islam, pertunangan pertama kali dilakukan pada masa jahiliyah. Imam Bukhari meriwayatkan melalui Aisyah ra., bahwa pada masa jahiliyah dikenal empat macam pernikahan. Pertama, pernikahan sebagaimana berlaku kini, dimulai dengan pinangan kepada orang tua atau wali, lalu membayar mahar dan menikah. Kedua, seorang suami memerintahkan istrinya untuk menikah dengan orang lain guna memperoleh keturunan yang baik. Apabila telah hamil, ia kembali pada sang suami untuk digauli lagi. Ketiga, sekelompok laki-laki kurang dari 10 orang menggauli satu wanita. Bila wanita itu hamil dan melahirkan, ia memanggil sekelompok laki-laki tadi dan menunjuk satu diantara mereka untuk memberi nama pada sang anak. Keempat, hubungan seks yang dilakukan oleh seorang pelacur. Sang pelacur memasang tanda di depan pintu rumah mereka dan bercampur dengan siapapun.

Setelah Islam datang, cara-cara pernikahan yang kedua, ketiga, dan keempat tersebut dilarang. Cara pernikahan pertamalah yang dibolehkan dalam Islam. Di sinilah mulai dilestarikan budaya pertunangan atau khitbah.

Meski tidak diatur secara khusus dalam Islam, namun terdapat rujukan tentang pertunangan dalam Al Qur’an dan hadits. Karenanya, perhelatan pertunangan lebih banyak mengikuti adat yang berlaku. Tiap daerah memiliki perbedaan dalam memaknai dan menyelenggarakan pertunangan.
Adat pertunangan tersebut boleh diikuti selama tidak bertentangan dengan Islam. Senada dengan hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad; Rasulullah SAW bersabda, “Sesuatu perkara atau perbuatan yang dianggap baik oleh masyarakat Islam adalah baik di sisi Allah”.
Tujuan Pertunangan

Pertunangan dimaksudkan untuk membuka ruang antar pasangan untuk saling mengenal sebelum menikah, baik dari segi lahiriah maupun batiniah. Dari mughirah bin Syu’bah berkata, “Aku pernah melamar seorang wanita. Lalu Nabi SAW bersabda, “Lihatlah ia, karena yang demikian itu akan melanggengkan kasih sayang antara kalian berdua” (HR. Nasa’I, Ibnu Majah dan Tirmidzi). Dalam hal ini jumhur ulama membatasi anggota tubuh yang boleh dilihat, yaitu wajah dan kedua tangan.

Hanya Sebatas Perjanjian

Pertunangan hanya sebatas perjanjian untuk mengadakan pernikahan dan tidak mewujudkan pernikahan tersebut. Artinya, masing-masing pihak berhak untuk membatalkan. Namun bila tidak ada alasan yang tepat, maka kedua belah pihak dilarang membatalkannya. “Wahai orang-orang yang beriman, tunaikan serta sempurnakan perjanjian-perjanjian kamu” (QS. 5: 1). Dalam hal ini, pihak yang diputuskan dapat meminta ganti rugi pada pihak yang memutuskan.

Adab Pertunangan

  • Setiap pertemuan dengan calon suami, hendaklah calon istri ditemani oleh mahram
  • Hindari ber-khalwat (berdua-duaan)
  • Pembicaraan yang diutarakan sebisa mungkin terhindar dari nafsu dan syahwat
  • Dalam berpenampilan, haruslah menutup aurat sebagaimana yang telah digariskan Islam.

Masa Pertunangan

Pada hakikatnya Islam mewajibkan untuk mempersingkat masa pertunangan dan mempercepat pernikahan. Lamanya masa pertunangan dikhawatirkan akan:

  • Memutuskan hubungan pertunangan, karena peluang untuk menghitung-hitung kekurangan calon suami/istri semakin lebar.
  • Memberi kesempatan pada orang lain untuk menyukai salah satu calon suami/istri.
  • Menambah daftar maksiat yang dibuat, karena sulitnya menghindar diri dari perbuatan dosa.

Mengganggu prestasi studi dan kerja, karena diusik gejolak rindu



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: