Leenxx’s Weblog











PEMANASAN GLOBAL ISU ATAU KENYATAAN

INTISARI

Isu yang paling menarik dalam memperingati Hari Bumi 2007 adalah pemanasan global (global warming). Pemanasan global tidak lain adalah indikasi atau tanda-tanda meningkatnya suhu permukaan baik di atas daratan, lautan, atau didarat dan dilaut secara menyeluruh (global). Peningkatan efek rumah kaca terutama disebabkan oleh pencemaran udara dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global, yaitu peningkatan suhu di permukaan bumi dan kenaikan permukaan air laut yang dapat mengakibatkan perubahan iklim.

Efek rumah kaca di atmosfer meningkat akibat adanya peningkatan kadar gas-gas rumah kaca, antara lain karbon dioksida, metana, ozon dan lain-lain.

Pemanasan Global atau Global Warming saat ini menjadi isu internasional.

Isu tersebut timbul karena pemanasan global mempunyai dampak yang sangat besar bagi dunia dan kehidupan makhluk hidup yaitu perubahan iklim dunia.

Hal yang patut dicatat di sini adalah ternyata tidak semua ilmuwan setuju tentang keadaan dan akibat dari pemanasan global. Beberapa pengamat masih mempertanyakan apakah suhu benar-benar telah meningkat. Sementara pengamat yang lain mengakui perubahan telah terjadi tetapi berpendapat bahwa masih terlalu dini untuk membuat prediksi tentang keadaan di masa depan. Beberapa pengamat juga membantah bukti-bukti yang menunjukkan kontribusi manusia terhadap pemanasan global dengan beranggapan bahwa siklus alami juga dapat meningkatkan suhu permukaan bumi.

Berdasarkan hasil pengolahan data suhu udara yang tercatat di stasiun meteorologi Banjarmasin selama 35 tahun dari tahun 1972 hingga tahun 2006 dari model regresinya menunjukan kondisi suhu udara yang terus meningkat dengan rata-rata peningkatanya sebesar 0.0256 derajat Celcius.

Dari hasil pengamatan ini dapat menjelaskan bahwasanya sudah terjadi kenaikan suhu udara yang merupakan salah satu parameter terjadinya pemanasan global di sekitar daerah pengamatan stasiun meteorologi Banjarmasin.

I. PENDAHULUAN

Dengan kemajuan industri menyebabkan aktifitas manusia banyak menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energi dalam kegiatan sehari-hari dan untuk menjalankan industrinya.

Akibat dari kemajuan industri ini manusia mempunyai andil yang besar sebagai penyumbang karbon dioksida dalam atmosfer yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, yaitu minyak bumi, batu bara, dan gas bumi. Penggundulan hutan serta perluasan wilayah pertanian sebagai akibat pertambahan jumlah penduduk dan kemajuan industri pertanian juga meningkatkan jumlah karbon dioksida dalam atmosfer.

Karbon dioksida adalah gas yang dapat bertahan cukup lama di atmosfir yang mempunyai efek sebagai penyelimut bumi dengan cara energi yang berasal dari matahari berupa radiasi gelombang pendek termasuk di dalamnya cahaya tampak ketika menyentuh permukaan bumi energi ini berubah dari cahaya menjadi panas lalu menghangatkan bumi.

Permukaan bumi akan memantulkan kembali sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar akan tetapi sebagian tetap terperangkap di atmosfer bumi sehingga suhu bumi menjadi hangat.

Efek dari penyelimutan ini dikenal dengan istilah efek rumah kaca atau Greenhouse Effect dan gas-gas yang mempunyai efek seperti ini disebut sebagai gas rumah kaca.

Beberapa jenis gas rumah kaca yang ada di atmosfer diantaranya adalah uap air (H2O),karbon dioksida (CO2), metana (CH4), ozon (O3), dinitrogen oksida (N2O), dan chlorofluorocarbon (CFC).

Masalah mulai muncul ketika gas rumah kaca di atmosfer jumlahnya semakin banyak sehingga muncul isu pemanasan global (global warming).

Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, diprediksi konsentrasinya di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad ke-22 bila dibandingkan dengan masa sebelum era industri. Akibatnya akan terjadi perubahan iklim secara dramatis seperti naiknya suhu, mencairnya es di kutub yang juga berdampak pada naiknya muka air laut.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa suhu udara global telah meningkat 0,6 derajat Celcius sejak tahun 1861.

IPCC memprediksi peningkatan suhu rata-rata global akan meningkat 1,4 hingga 5,8 derajat Celcius pada tahun 2100. Lebih jauh IPCC juga memperingatkan bahwa meskipun konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi sejak tahun 2100, iklim tetap terus menghangat selama periode tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan sebelumnya.

Karbon dioksida (salah satu gas rumah kaca) akan tetap berada di atmosfer dalam waktu yang cukup lama sebelum alam mampu menyerapnya kembali.

Jika hal ini benar terjadi (suhu udara meningkat serta mencairnya es di kutub) maka akan dapat mengakibatkan meningkatnya volume lautan serta menaikan permukaannya antara 9 hingga 100 cm, menimbulkan banjir di daerah pantai, bahkan dapat menenggelamkan pulau-pulau. Beberapa daerah dengan iklim hangat akan menerima curah hujan yang lebih tinggi, tetapi tanah juga akan lebih cepat kering. Kekeringan tanah ini akan merusak tanaman bahkan menghancurkan suplai makanan di beberapa tempat di dunia. Hewan dan tanaman akan bermigrasi ke arah kutub yang lebih dingin dan spesies yang tidak mampu berpindah akan musnah.

Sedangkan penelitian lain memprediksikan dampak pemanasan global yang dapat terjadi di Indonesia sebagai berikut:

· Kenaikan permukaan air laut setinggi 60 cm pada tahun 2070. Bagi penduduk di daerah pantai, hal ini akan menjadi ancaman karena tempat tinggal mereka terancam banjir, sementara penghasilan mereka (baik sebagai nelayan maupun dari sektor pariwisata) terancam oleh perubahan gelombang pasang.

· Rusaknya infrastruktur daerah tepi pantai sehingga Indonesia akan kehilangan sekitar 1.000 km jalan dan 5 pelabuhan lautnya. Selain itu infrastruktur lain di sekeliling pantai perlu direhabilitasi dan ditinggikan.

· Akan terjadi krisis air bersih di perkotaan. Naiknya permukaan laut tidak hanya mempengaruhi mereka yang tinggal di tepi pantai, tapi juga mereka yang di perkotaan akibat intrusi air laut.

· Meningkatnya frekuensi penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, seperti penyakit malaria dan demam berdarah.

· Menurunnya produktivitas pertanian akibat perubahan suhu dan pola hujan yang tak tentu.

· Sejumlah keanekaragaman hayati terancam punah akibat peningkatan suhu bumi rata-rata sebesar 1 0C. Setiap individu harus beradaptasi pada perubahan yang terjadi, sementara habitatnya akan terdegradasi. Spesies yang tidak dapat beradaptasi akan punah. Spesies-spesies yang tinggal di kutub, seperti penguin, anjing laut, dan beruang kutub, juga akan mengalami kepunahan, akibat mencairnya sejumlah es di kutub.

Indonesia seperti banyak negara berkembang lain bukanlah penyumbang terbesar bagi pemanasan global saat ini. Walaupun demikian jika pola penggunaan energi seperti peningkatan tingkat konsumsi listrik rumah tangga dan industri serta penggunaan energi yang tidak efisien, perkembangan industri serta perusakan hutan yang terjadi saat ini berlangsung terus maka ada kemungkinan bahwa Indonesia akan turut bertanggung jawab terhadap terjadinya pemanasan global.

Karena demikian besar potensi kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh pemanasan global ini sehingga ilmuwan-ilmuwan dunia menyerukan perlunya kerja sama internasional serta reaksi yang cepat untuk mengatasi masalah ini.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Pemanasan global (global warming) tidak lain adalah indikasi atau tanda-tanda meningkatnya suhu permukaan baik di atas daratan, lautan, atau didarat dan dilaut secara menyeluruh (global). Selain pemanasan global sebenarmya ada pula istilah pendinginan global (global cooling) terutama pada lapisan stratosfer antara 12 hingga 45 km di atas permukaan laut. Namun istilah ini tidaklah segencar isu pemanasan global karena kejadian pendinginan global ini tidak bersentuhan langsung dengan kehidupan manusia di bumi.

A. Atmosfer bumi

Atmosfer adalah lapisan udara yang menyelimuti planet bumi. Atmosfer bumi terdiri dari beberapa gas antara lain nitrogen, oksigen, karbon dioksida, ditambah dengan uap air dan zat-zat lain seperti debu.

Atmosfer bumi terdiri dari berbagai lapisan yaitu berturut-turut dari lapisan bawah ke atas adalah troposfer, stratosfer, mesosfer, dan termosfer. Troposfer adalah lapisan terendah yang tebalnya kira-kira sampai dengan 10 kilometer di atas permukaan bumi.

Stratosfer adalah lapisan kedua dari bumi yang tebalnya kira-kira 10 kilometer sampai dengan 60 kilometer di atas permukaan bumi.

Dalam troposfer ini terdapat gas-gas rumah kaca yang menyebabkan efek rumah kaca dan pemanasan global.

Dengan adanya gas rumah kaca yang kemudian menimbulkan efek rumah kaca maka suhu rata-rata di permukaan bumi naik 33°C lebih tinggi (menjadi 15°C) dari seandainya tidak ada efek rumah kaca (- 18°C).

Di stratosfer terdapat ozon yang dapat melindungi bumi dari bagian sinar matahari yang berbahaya untuk kehidupan manusia yaitu sinar ultraviolet.

Semua keadaan ini memungkinkan manusia untuk hidup dan beraktifitas di muka bumi.

B. Mekanisme terjadinya rumah kaca

Pancaran sinar matahari yang sampai ke bumi (setelah melalui penyerapan berbagai sinar di atmosfer) sebagian radiasi tersebut dipantulkan dan sebagian diserap oleh bumi.

Radiasi yang diserap dipancarkan lagi oleh bumi sebagai sinar inframerah yang bergelombang panjang. Sinar tersebut di atmosfer akan diserap oleh gas-gas rumah kaca seperti uap air (H2O) dan karbon dioksida (CO2) sehingga tidak terlepas ke luar angkasa dan menyebabkan panas terperangkap di troposfer dan akhirnya menyebabkan peningkatan suhu di bumi maupun di lapisan troposfer (lapisan atmosfer terendah). Hal tersebut menyebabkan terjadinya efek rumah kaca di bumi.

Efek Rumah Kaca atau Greenhouse Effect merupakan istilah yang pada awalnya berasal dari pengalaman para petani di daerah beriklim sedang yang menanam sayur-mayur dan biji-bijian di dalam rumah kaca. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa pada siang hari waktu cuaca cerah meskipun tanpa alat pemanas suhu di dalam ruangan rumah kaca lebih tinggi dari pada suhu di luarnya.

Hal tersebut terjadi karena sinar matahari yang menembus kaca dipantulkan kembali oleh benda-benda di dalam ruangan rumah kaca sebagai gelombang panas yang berupa sinar inframerah. Oleh karena itu udara di dalam rumah kaca suhunya naik dan panas yang dihasilkan terperangkap di dalam ruangan rumah kaca dan tidak tercampur dengan udara di luar rumah kaca. Akibatnya suhu di dalam ruangan rumah kaca lebih tinggi dari pada suhu di luarnya dan hal inilah yang dikatakan sebagai efek rumah kaca. Efek rumah kaca dapat pula terjadi di dalam mobil yang diparkir di tempat yang panas dengan jendela tertutup.

C. Gas-gas rumah kaca

Gas-gas Rumah Kaca atau Greenhouse Gases adalah gas-gas yang menyebabkan terjadinya efek rumah kaca. Selain uap air (H2O) dan karbon dioksida (CO2) terdapat gas rumah kaca lain di atmosfer dan yang terpenting berkaitan dengan pencemaran dan pemanasan global adalah metana (CH4), ozon (O3), dinitrogen oksida (N2O), dan chlorofluorocarbon (CFC).

Gas Rumah Kaca dapat terbentuk secara alami maupun sebagai akibat pencemaran.

· Uap air (H2O) bersifat tidak terlihat yang berbeda dari awan dan kabut yang terjadi ketika uap membentuk butir-butir air. Sebenarnya uap air merupakan penyumbang terbesar bagi efek rumah kaca. Jumlah uap air dalam atmosfer berada di luar kendali manusia dan dipengaruhi terutama oleh suhu global. Jika bumi menjadi lebih hangat, jumlah uap air di atmosfer akan meningkat karena naiknya laju penguapan. Ini akan meningkatkan efek rumah kaca serta makin mendorong pemanasan global.

· Karbon dioksida (CO2).Laut mempunyai peranan penting dalam siklus karbon karena siklus karbon sebagian besar terjadi dilaut. Menurut ahli biologi hanya 10 persen siklus carbon terjadi di darat sedangkan sisanya terjadi di laut. Jadi terganggunya siklus carbon baik yang dilaut maupun yang didarat dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global. Semakin tinggi suhu permukaan laut maka akan semakin rendah proses penyerapan karbon di udara oleh laut atau dengan kata lain siklus karbon terganggu.

Namun selain efek rumah kaca tersebut karbon dioksida juga memainkan peranan sangat penting untuk kehidupan tanaman. Karbon dioksida diserap oleh tanaman dengan bantuan sinar matahari dan digunakan untuk pertumbuhan tanaman dalam proses yang dikenal sebagai fotosintesis. Proses yang sama terjadi di lautan di mana karbon dioksida diserap oleh ganggang.

· Metana (CH4)

Metana adalah gas rumah kaca yang terdapat secara alami. Metana dihasilkan ketika jenis-jenis mikroorganisme tertentu menguraikan bahan organik pada kondisi tanpa udara (anaerob). Gas ini juga dihasilkan secara alami pada saat pembusukan biomassa di rawa-rawa sehingga disebut juga gas rawa. Metana mudah terbakar, dan menghasilkan karbon dioksida sebagai hasil sampingan.

Kegiatan manusia telah meningkatkan jumlah metana yang dilepaskan ke atmosfer. Sawah merupakan kondisi ideal bagi pembentukannya, di mana tangkai padi nampaknya bertindak sebagai saluran metana ke atmosfer. Meningkatnya jumlah ternak sapi, kerbau dan sejenisnya merupakan sumber lain yang berarti karena metana dihasilkan dalam perut sapi, kerbau dan dikeluarkan ketika bersendawa. Metana juga dihasilkan dalam jumlah cukup banyak di tempat pembuangan sampah.

· Chloroflourocarbon (CFC)

Chlorofluorocarbon adalah sekelompok gas buatan. CFC mempunyai sifat-sifat misalnya tidak beracun, tidak mudah terbakar, dan amat stabil sehingga dapat digunakan dalam berbagai peralatan.

Chlorofluorocarbon yang umum digunakan dalam proses mengembangkan busa, di dalam peralatan pendingin ruangan dan lemari es. Gas ini di atmosfer dapat bereaksi dengan ozon sehingga dapat mengakibatkan menipisnya lapisan ozon.

Peningkatan kadar gas rumah kaca akan meningkatkan efek rumah kaca yang dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global. Waktu tinggal gas rumah kaca di atmosfer juga mempengaruhi efektivitasnya dalam menaikkan suhu. Makin panjang waktu tinggal gas di atmosfer makin efektif pula pengaruhnya terhadap kenaikan suhu.

Selain akibat efek rumah kaca peningkatan suhu udara juga disebabkan oleh beberapa faktor seperti diantaranya :

o Sinar kosmik

Sinar kosmik yang berasal dari luar angkasa mempengaruhi terciptanya awan-awan di atmosfer bagian bawah. Sinar kosmik ini mampu meningkatkan terjadinya pembentukkan awan di atmosfer bagian bawah dimana semakin tinggi sinar kosmik yang masuk ke bumi maka semakin tinggi jumlah awan yang tercipta. Awan memantulkan sekitar 20% energi matahari kembali keluar angkasa. Dengan semakin banyaknya awan maka energi matahari yang masuk kebumi akan semakin kecil dan bumi menjadi dingin. Akan tetapi pada saat ini diperkirakan sinar kosmik yang masuk kebumi semakin sedikit sehingga proses terciptanya awan juga semakin kecil dan akhirnya bumi semakin panas.

o Matahari

Bumi semakin panas akibat dari matahari yang semakin bergejolak. Di sekitar matahari sering muncul bintik-bintik matahari akibat ledakan gas-gas hidrogen. Semakin banyak jumlah bintik-bintik itu maka energi panas yang dipancarkan oleh matahari juga semakin tinggi yang akan mempengaruhi juga panas di bumi.

III. METODE

Isu yang paling menonjol dalam hal terjadinya pemanasan global adalah terjadinya peningkatan suhu udara di prmukaan bumi dan kenaikan muka air laut. Untuk mengetahui apakah terjadi kenaikan atau tidaknya suhu permukaan dalam hal ini akan ditinjau dengan melihat kecendrunganya dengan menggunakan teknik regresi.

Analisis regresi adalah analisis statistik untuk mengetahui hubungan dua variabel kuantitatif atau lebih sehingga satu variabel dapat diprediksi harganya dari variabel yang lainya.

Model regresi adalah suatu cara untuk menyatakan dua hal dari relasi statistik yaitu : kecendrungan variabel respon (Y) berubah-ubah terhadap variabel independen (X) dalam bentuk yang sistematis dan tersebarnya observasi di sekitar kurva dari relasi statistik tersebut.

Dalam populasi harga observasi darimana sampel diambil terdapat ditribusi probabilitas dari Y untuk setiap tingkat dari X dan harga–harga mean dari distribusi probabilitas itu berubah-ubah secara sistematis terhadap X.

Disini metode yang dipakai adalah regresi linear yang dimodelkan sebagai berikut:

Yi = ß0 + ß1 Xi + Єi , dimana

Yi adalah variabel respon dari trial ke-i

ß0 dan ß1 adalah parameter-parameter (konstanta)

Xi adalah variabel independen dari trial ke-i

Єi adalah suku sesatan random dengan E(Єi) = 0 dan Var(Єi) = σ2 serta Єi , Єj tidak berkorelasi atau Cov(Єj , Єi) = 0 untuk semua i dan j dimana i ≠ j.

Untuk setiap pasangan (Yi , Xi) dipandang simpangan Yi terhadap harga ekspektasinya E(Yi) yaitu E(Yi) = ß0 + ß1 Xi

Sehingga Yi – E(Yi) = Yi – (ß0 + ß1 Xi)

Jumlah kuadrat dari simpangan ini ditulis sebagai

Q =∑ ( Yi – (ß0 + ß1 Xi))2

Kemudian dengan menggunakan metode kuadrat terkecil akan diperoleh harga-harga b0 dan b1 yaitu harga-harga yang membuat harga Q minimum apabila :

∂Q/∂ ß0 = 0 dan ∂Q/∂ ß1= 0 sehingga diperoleh :

-2∑ ( Yi – ß0 – ß1 Xi) =0 …………(1)

-2∑ ( Yi – ß0 – ß1 Xi) Xi =0 ………(2)

Dari persamaan 1 dan 2 akan diperoleh persamaan normal yaitu :

n b0 + b1 ∑Xi =∑ Yi

b0 ∑Xi+ b1 ∑(Xi)2=∑ Xi Yi

Sehingga akhirnya dari kedua persamaan normal ini akan dapat ditentukan :

∑X Y ∑X ∑Y

b1=

∑ X2 (∑ X/n)2

∑Y

b0= b1 (∑ X/n)

n

IV. HASIL PENGOLAHAN

Hasil pengolahan dengan metode regresi linear secara umum persamaanya berbentuk Yi = b0 + b1 Xi yang mempunyai arti kenaikan nilai Y dalam hal ini adalah suhu udara akan mengalami peningkatan sebesar b1 setiap tahunya lebih tinggi dari b0 (rata-ratanya).

Berdasarkan pengolahan terhadap data suhu udara yang tercatat di stasiun meteorologi Banjarmasin mulai dari tahun 1972 hingga tahun 2006 sebanyak 35 data diperoleh hasil regresi estimasinya sebagai berikut :

Untuk bulan Januari persamaan regresi estimasi

Y = 25.8467 + 0.0242X

Var = 0.206

Untuk bulan Pebruari persamaan regresi estimasi

Y = 25.9812 + 0.0236X

Var = 0.146

Untuk bulan Maret persamaan regresi estimasi

Y = 26.3630 + 0.0189X

Var = 0.134

Untuk bulan April persamaan regresi estimasi

Y = 26.5938 + 0.0200X

Var = 0.142

Untuk bulan Mei persamaan regresi estimasi

Y = 26.4798 + 0.0306X

Var = 0.312

Untuk bulan Juni persamaan regresi estimasi

Y = 26.2553 + 0.0223X

Var = 0.209

Untuk bulan Juli persamaan regresi estimasi

Y = 25.8713 + 0.0206X

Var = 0.139

Untuk bulan Agustus persamaan regresi estimasi

Y = 26.0561 + 0.0205X

Var = 0.235

Untuk bulan September persamaan regresi estimasi

Y = 25.8849 + 0.0442X

Var = 0.476

Untuk bulan Oktober persamaan regresi estimasi

Y = 26.5329 + 0.0252X

Var = 0.172

Untuk bulan Nopember persamaan regresi estimasi

Y = 26.0314 + 0.0310X

Var = 0.259

Untuk bulan Desember persamaan regresi estimasi

Y = 25.8175 + 0.0263X

Var = 0.250

Rata-rata keadaan suhu udara selama 35 tahun adalah

Y = 26.1428 + 0.0256X

Var = 0.525

V. KESIMPULAN

Dari hasil pengolahan data suhu udara yang tercatat di stasiun meteorologi Banjarmasin dapat disimpulkan sebagai berikut :

o Pengingkatan suhu udara sudah terjadi sejak 35 tahun yang lalu yang ditandai dengan indek konstanta yang terkait dengan suhu udara selalu bernilai positif.

o Kenaikan suhu udara tertinggi terjadi pada bulan September sebesar 0.0442 derajat Celcius setiap tahunya. Hal ini terjadi dapat disebabkan oleh karena pada bulan-bulan tersebut sering terjadi kebakaran hutan yang terkait dengan berlangsunya musim kemarau.

o Sedangkan untuk kejadian rata-ratanya selama 35 tahun telah terjadi kenaikan suhu udara sebesar 0.0256 derajat Celcius dengan suhu rata-ratanya 26.1428 derajat Celcius.

o Jika keadaan ini terus berlangsung maka untuk tahun 2100 diperkirakan suhu udara akan mengalami kenaikan sebesar 3.3 derajat Celcius.

Secara umum tanda-tanda pemanasan global sudah mulai terlihat dimana telah dibuktikan adanya pencairan salju di daerah kutub, serta kenaikan muka air laut. Untuk di Indonesia selain terjadinya kenaikan suhu udara serta peningkatan muka air laut juga akibat dari pemanasan global ini sudah terbukti dimana dalam sepuluh tahun terakhir ini sudah mengalami tiga kali musim kemarau sangat panjang yang mempunyai dampak amat merugikan.

VI. SARAN-SARAN

Walaupun masih terjadi perdebatan tentang skenario yang akan terjadi akibat pemanasan global lebih baik kita mulai dengan langkah-langkah penghematan karena hal ini akan bermanfaat pada saat tidak terjadi pemanasan global dan lebih bermanfaat lagi jika pemanasan global terjadi.

Untuk menghilangkan ancaman pemanasan global secara menyeluruh konsentrasi gas-gas rumah kaca harus dikurangi sampai tingkat batas-batas tertentu.

Tindakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca adalah dengan langkah-langkah konservasi energi seperti :

· Konsumsi listrik untuk penerangan dapat dikurangi secara drastis melalui penggunaan lampu yang lebih efisien.

· Seluruh sektor transportasi diupayakan lebih memperhatikan dalam efisiensi penggunaan bahan bakar.

· Menggunakan bahan bakar biomassa berasal dari kayu atau sisa-sisa tanaman pertanian. Bahan ini dapat digunakan secara berkelanjutan dengan jumlah penggunaan setara dengan jumlah penanaman. Jika hal ini dilakukan, tidak akan ada emisi karbon dioksida karena tumbuhan yang ditanam akan mengkonsumsi karbon dioksida sebanyak yang dilepaskan ketika bahan dibakar. Jika energi yang dihasilkan ini digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil, maka akan dapat mengurangi emisi karbon dioksida.

· Diupayakan untuk pemanfaatan sumber energi terbarui yang diyakini tidak menghasilkan emisi karbon dioksida.

· Peningkatan penanaman pohon untuk memperlambat penimbunan gas-gas rumah kaca dan menghentikan penggundulan hutan.

VII. DAFTAR PUSTAKA

1. Dra. Sri Pangesti. ”Regresi Linear” Karunika Jakarta, 1987

2. Foley.G. ”Pemanasan Global” Yayasan Obor Indonesia Jakarta, 1993

3. Web site ”www.ipcc.ch”

4. Web site ”www.globalchange.org”

PEMANASAN GLOBAL ISU ATAU KENYATAAN

BMG

OLEH

I.WAYAN MUSTIKA,SSI

STASIUN METEOROLOGI SYAMSUDIN NOOR BANJARMASIN



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: